ePustaka Salafiyah


Kumpulan bacaan pencerah jiwa

Hukum Menunda Penguburan Jenazah.

Pengurusan jenazah hukumnya fardhu kifayah, dan anjuran Rasulullah dalam hal ini adalah menyegerakannya. Namun, kadangkala pada praktiknya muncul beberapa masalah karena berkenaan dengan, misalnya kepentingan studi, penyelidikan hukum, atau adat. Beberapa praktik tersebut kerap menunda pelaksanaan pemandian jenazah yang secara otomatis menunda pula prosesi pemakaman.

Munculah pertanyaan, apa hukum mengakhirkan penguburan jenazah? Berapa lama batas mengakhirkan penguburan jenazah? Rasulullah bersabda:

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إِلَيْهِ وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Percepatlah kalian dalam membawa jenazah. Jika jenazah itu baik maka kalian telah mendekatkanya pada kebaikan. Jika jenazah itu jelek, maka kalian telah melepaskan dari pundak kalian.” (HR Bukhari)

Berdasarkan hadits ini Muhammad al-Khatib al-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj, berpendapat tidak boleh menunda penguburan jenazah untuk alasan memperbanyak orang yang menshalatinya.

(وَلَا تُؤَخَّرُ) الصَّلَاةُ (لِزِيَادَةِ مُصَلِّينَ) لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ وَلَا بَأْسَ بِانْتِظَارِ الْوَلِيِّ عَنْ قُرْبٍ مَا لَمْ يُخْشَ تَغَيُّرُ الْمَيِّتِ

“(Dan tidak tunda) pelaksanaan shalat jenazah (karena alasan memperbanyak orang yang menshlatinya) berdasarkan hadits shahih: ‘Bersegeralah kalian dengan urusan jenazah’. Dan boleh menanti walinya sebentar selama tidak dikhawatirkan perubahan kondisinya.” (Muhammad al-Khatib al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah t. th.], Jilid II, h. 51)

KITAB NGAKOID: Majlis Tarjih Muhammadiyah, Metode Takwil, dan Bukti Konsistensi Aswaja

Metode takwil dalam memahami ayat-ayat antropomorfisme dalam Quran telah ditetapkan dalam keputusan Majlis Tarjih Perserikatan Muhammadiyah. Ada 2 bukti kitab rujukan yang dapat dijadikan referensi. Pertama, kitab "Ngilmu Tauhid"  yang dihimpun oleh S. Hadiwijata (Solo: Boekhandel Ab. Sitti Sjamsijah, 1929 M). Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa dan beraksara Jawa. 

Hukum Membuat Sesajen

Oleh Kiai Hidayat Nur 

Dalam pandangan fikih Islam yang saya fahami, membuat sesajen (sesaji) berupa makanan adalah terlarang, jika:

(1) Unsur idho'atul mal (menyia-nyiakan harta), yaitu meletakkan sesaji dan tidak diambil kembali. Kecuali sesaji tersebut dilakukan untuk menolak prilaku buruk jin yang seandainya tidak dilakukan, maka sesuai kebiasaan yang berlaku jin akan mengamuk atau membuat kerusakan. Maka hukum haram idho'atul mal tersebut menjadi hilang. Itupun tetap dengan satu keyakinan bahwa Allah semata yang dapat memberikan manfaat dan madhorot secara absolut. 

(2) Tasyabbuh (menyerupai) dengan adat jahiliyah. Artinya, haram apabila niatan dari pelaku adalah untuk menyerupai adat jahiliyah atau menghidupkan tradisi jahiliah. Dan hukum tasyabbuh ini sangat bergantung dengan niat pelaku. Alasannya, walaupun awal mulanya tradisi ini adalah tradisi jahiliyah, akan tetapi tradisi tersebut sudah biasa dikerjakan oleh sebagian masyarakat muslim yang awam dan jauh dari agama, sehingga haram atau tidaknya tergantung niat tasyabbuh dan maksud pelaku. 

Demikian mengacu pada putusan Bahtsul Masail di PP. Al-Ma'ruf Bandungsari (Grobogan Jawa Tengah) yang dihadiri pondok-pondok lain se-Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti PP. Lirboyo, PP. Ploso, PP. Mahir ar-Riyadh, PP. Raudhatul Ulum Pasuruan, PP. Al-Anwar Sarang, PP. Sidogiri, PP. MUS Sarang, dan lain-lain. 

Dalam kitab Sirojul Arifin (hal. 57) disebutkan:

 اما وضع الطعام والأزهار فى الطرق اوالمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره فى الأيام المعتادة كيوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما كل ذلك من الأمور المحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل أهل الشرك  .

"Adapun meletakkan makanan dan aneka ragam kembang di jalanan, sawah, atau rumah untuk roh mayit atau yang lain pada hari-hari yang sudah menjadi kebiasaan, seperti hari raya, hari Jum'at dan selainnya, maka semua itu adalah diharamkan dan termasuk tradisi jahiliyah dan perbuatan ahli syirik". 

MEMAHAMI "IBARAH SESAJEN"

Oleh Dr. Abdul Wahhab Ahmad

Sebagian kawan menukil beberapa ibarah (kutipan kitab fikih) untuk membenarkan tradisi pemberian sesajen yang diberikan dengan cara tertentu. To the point, saya secara pribadi mempunyai pemahaman yang berbeda dalam membaca ibarah-ibarah tersebut sehingga bagi saya kurang pas bila itu dijadikan dasar justifikasi sesajen. Setelah berbincang santai via WhatsApp dengan akhi al-karim senior saya di LBM, Kyai Ma'ruf Khozin, tentang ini, beliau meminta saya untuk menuliskan pemahaman saya. Sebagai pasukan beliau di Aswaja NU Center, saya melaksanakan permintaan beliau tersebut sekaligus memohon koreksi pada beliau dan sahabat-sahabat yang lain tentang hasil pembacaan saya.

Berikut ini di antara ibarah yang dimaksud. Pertama:

(فَائِدَةٌ) مَنْ ذَبَحَ تَقَرُّبًا للهِ تَعَالَى لِدَفْعِ شَرِّ الْجِنِّ عَنْهُ لَمْ يَحْرُمْ، أَوْ بِقَصْدِهِمْ حَرُم وَصَارَتْ ذَبِيْحَتُهُ مَيْتَةً. بَلْ إِنْ قَصَدَ التَّقَرُّبَ وَالْعِبَادَةَ لِلْجِنِّ كَفَرَ (إعانة الطالبين - ج 2 / ص 397)

“Barangsiapa menyembelih hewan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah untuk menghindari petaka dari Jin, maka tidak haram. Jika bertujuan untuk Jin (bukan karena Allah), maka haram… Sebab sembelihannya menjadi bangkai. Bahkan jika bertujuan mendekatkan diri dan ibadah kepada Jin, maka ia telah berbuat kufur” (Syaikh Abu Bakar Syatha, Ianat ath-Thalibin, 2/397)

Ada dua poin krusial yang perlu dibedakan dengan tegas dalam ibarah di atas, yakni:

1. Menyembelih karena Allah dengan tujuan terhindar dari gangguan jin (مَنْ ذَبَحَ تَقَرُّبًا للهِ تَعَالَى لِدَفْعِ شَرِّ الْجِنِّ عَنْهُ). Sembelihan semacam ini sama dengan sembelihan pada umumnya yang dilakukan seorang muslim ketika berkorban saat Idul Adha, hanya saja motifnya agak berbeda. Kalau saat idul Adha menyembelih karena Allah dengan motif agar mendapat pahala, dalam kasus ibarah ini motifnya agar tehindar dari jin. 

al-Razi dan Konsep Multiverse

Abu Abdullah Muhammad bin Umar ibn al-Husain al-Razi (m.1209M/606H), atau lebih dikenali sebagai Imam Fakhr al-Din al-Razi, adalah salah seorang ulama’ bermazhab Shafi’e dalam fiqh, dan Asha’irah dalam manhaj aqidah. 


Beliau turut dikenali sebagai Sultan al-Mutakallimin (ketua pakar ilmu kalam/teologi) dan Syeikh al-Mushakkikin (Ketua kepada pembangkit skeptik), menggambarkan kesarjanaan beliau dalam  ilmu kalam. Beliau berusaha keras menolak fahaman Muktazilah dan falsafah sesat semasa zamannya.